Inilah Perkataan Kasar Ahok Yang Akibatkan Kompas TV Diberi Sanksi

wawancara antara Aiman dan Ahok:

Gua bukain lu taik-taik semua itu seperti apa. …nggak apa-apa, biar orang tau emang taik gua bilang…. …kalau bukan taik apa? Kotoran. Silakan. Emang taik namanya kok. Emang taik, mau bilang apa. …TV jangan pernah wawancara gua live kalo nggak suka kata gua taik segala macem. Itu bodohnya anda mau live dengan saya…” *

Sraux.wordpress.com-ada sebuah pepatah mengatakan: ” Mulutmu Harimaumu”, tapi pepatah kuno itu sudah kalah tenar dengan pepatah Mulutmu Ahokmu”. 

mau tau kira kira apa saja yang menyebabkan pepatah itu begitu Hot saat ini. berikut kutipan kutipan yang kami peroleh dari berbagai media..

  1. wawancara Ahok dengan Aiman dalam acara “Kompas Petang”

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat akhirnya menjatuhkan sanksi administratif Penghentian Sementara Segmen Wawancara pada program jurnalistik “Kompas Petang”.

Surat Sanksi Administratif disampaikan KPI Pusat ke Kompas TV, Senin 23 Maret 2015.

Berdasarkan nomor surat 225/K/KPI/3/15 yang disiarkan di website resmi KPI, program yang disiarkan secara langsung pada Selasa, 17 Maret 2015 pukul 18.18 WIB itu dikategorikan sebagai pelanggaran norma kesopanan, perlindungan anak-anak dan remaja, pelarangan ungkapan kasar dan makian. Serta melanggar prinsip-prinsip jurnalistik.

“Tayangan yang memuat ungkapan atau perkataan kasar/kotor demikian dilarang untuk ditampilkan, karena sangat tidak santun, merendahkan martabat manusia, dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat serta rentan untuk ditiru oleh khalayak, terutama anak-anak dan remaja,” demikian pernyataan KPI.

Menurut KPI,  Kompas TV dianggap lalai dan tidak tanggap atas jawaban atau tanggapan narasumber yang menyampaikan hal-hal tidak pantas kepada publik.

“Oleh karena itu, Kompas TV wajib menyampaikan permintaan maaf kepada publik yang disiarkan pada waktu siar yang sama dalam program jurnalistik ‘Kompas Petang’ selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal diterimanya surat ini. Kompas TV diminta memberikan bukti kepada KPI Pusat bahwa permintaan maaf kepada publik tersebut telah dijalankan,” bunyi sanksi administratif yang dilayangkan KPI Pusat.

KPI menilai, tayangan wawancara tersebut melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 9, Pasal 14 ayat (2), Pasal 17, dan Pasal 22 ayat (3) serta Standar Program Siaran (SPS) Pasal 9 ayat (2), Pasal 15 ayat (1), dan Pasal 24.

Berikut perkataan kasar dan kotor Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang digarisbawahi KPI Pusat saat wawancara langsung di Kompas TV;

“…istri saya mau nerima CSR untuk main di kota tua. Lu buktiin aja nenek lu sialan bangsat gua bilang. Lu buktiin aja. Gue juga udah keki”.

“…lu lawan bini gua kalah lu mati aja lu. Kasih taik aja muka lu”.

“…kalau betul ada suap 12,7 triliun kenapa si DPRD membatalkan lapor ke Bareskrim? Kok goblok sekali lu orang? …kalau ada bukti memang nyuap apa lu laporin dong bego. …bego banget lu gitu lho. …sementara ada bukti gua mau nyuap lu 12,7 triliun, kok lu nggak berani laporin? Gua kuatir lu kemaluan lu punya ga nih? …eh dibalikin ini yang buat suap. Sialan nggak tuh? Makanya gua bilang panggil gua datang ke angket. Kapan lu panggil biar gua jelasin semua.

Gua bukain lu taik-taik semua itu seperti apa. …nggak apa-apa, biar orang tau emang taik gua bilang…. …kalau bukan taik apa? Kotoran. Silakan. Emang taik namanya kok. Emang taik, mau bilang apa. …TV jangan pernah wawancara gua live kalo nggak suka kata gua taik segala macem. Itu bodohnya anda mau live dengan saya…” *

2. penggusuran Rumah warga Pluit

Image result for pluit penggusuran

Berawal dari kekesalannya terhadap warga di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara yang tidak mau pindah dari tanah ilegal. Ahok yang ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2013 lalu menyebut warganya sendiri dengan melontarkan kata komunis.

“Kalau saya bangun rumah di tanah yang bukan milik saya tanpa izin, dibongkar P2B, saya minta ganti rugi nggak sama pemerintah? Dapat? Mana ada? Ya, mampus semuanya. Udah bangun salah, dikasih duit gitu, lho. Terus saya bangun di tanah negara, terus saya sewa-sewain sama orang, dibongkar, minta ganti rugi. Mana ada hukumnya? Itu komunis namanya,” ujar Ahok ketika itu.

Ahok tidak terima dengan aksi warga yang secara sembarang menempati Waduk Pluit. Bahkan ia juga mengancam akan melaporkan warganya ke polisi.

“Kalau nggak mau kita tangkap lapor polisi, enak saja emangnya komunis main duduk-dudukin. Kalau legal tanda tangan surat perjanjian,” pungkasnya. – See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2188798/ini-kata-kata-kasar-yang-pernah-dilontarkan-ahok/21592/ahok-sebut-warganya-komunis#sthash.3VTQLNVY.dpuf

3. Ahok teriak Maling kepada seorang ibu hingga sock berat.

berantai.com-Yusri Isnaeni (32) merasa tak terima dirinya dibentak oleh Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta. Ibu rumah tangga ini tinggal diJalan Mahoni, Blok A Gang I Nomor 34, RT 003/RW 009, Lagoa, Koja, Jakarta Utara. Yusri merasa kesal, ia mengancam melaporkan Ahok ke polisi dan mengajukan gugatan senilai 100 Miliar rupiah.

Kamis (10/12/2015) yang lalu, Yusri mendatangi Ahok untuk menanyakan soalsulitnya pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) milik anaknya, Anggun Hanna Dwi Renjani (9). Anggun adalah siswi Sekolah Dasar (SD) swasta Al-Khariyah.

Ucapan sinis yang disampaikan Ahok, membuatnya tersinggung. Ibu satu anak ini sakit hati karena dituduh Ahok maling uang KJP, ia juga mengaku kesal karena orang nomor satu di Jakarta itu meminta ajudannya untuk melaporkan Yusri ke polisi, hingga memenjarakannya.

“Ya saya bingung? Pak Ahok ngomongnya ke saya tajam sekali. Saya sakit hati lho, jujur. Semua media meliput saya saat itu. Saya kan malu sekali, mas. Warga, orang rumah, semuanya membaca pemberitaan soal saya dituduh maling dana KJP oleh Ahok. Anak saya sampai nggak mau sekolah karena sering disindir. Intinya harkat dan matabat saya tercoreng, mencemarkan nama baik saya,” paparnya.

“Ahok malah menuduh saya. ‘Ibu maling… Ibu maling… Ibu maling…’ Sampai tiga kali. Lalu Ahok bilang, catat nih namanya, penjarakan saja dia. Gimana saya nggak kesal, mas. Saya mau melaporkan Ahok ke Polda Metro Jaya dan akan saya tuntut Rp 100 miliar,” ungkap Yusri.

link Youtube-nya bisa d klik    https://www.youtube.com/watch?v=XeO0asNhwIY

Sebelum perirtiwa itu terjadi, Yusri kebingungan saat ingin membeli seragam sekolah dan sepatu anaknya. Dirinya ingin mencairkan dana KJP sebesar Rp 300.000 untuk membeli kebutuhan sekolah anaknya.

Hanya saja, Yusri sampai lima kali mengalami kesulitan saat bertransaksi dengan KJP di sebuah toko seragam sekolah di Pasar Koja. Transaksi selalu gagal karena jaringannya offline.

“Selalu gagal bertransasksi karena offline terus. Saya bingung, sebelum-sebelumnya gak seperti ini, lancar terus. Akhir-akhir ini semakin sulit bertransaksi. Menurut penjaga toko sih sedang offline, jadi susah melakukan transaksi. Saya bingung, sudah kepepet untuk membeli seragam, sepatu, dan kebutuhan sekolah anak saya,” jelasnya.

Ia mengaku, saat kebingungan itu dihampiri seorang pria yang menawarkan bantuan mencairkan dana KJP. Ia tak kenal, namun pria itu mengaku dapat membantu membelikan kebutuhan sekolah anaknya dengan KJP.

“Saya memang lagi butuh dan sedang kesal dengan KJP, maka langsung menerima bantuan orang itu. Ternyata pria itu punya toko, cuma bukan berdagang seragam sekolah. Kartu KJP diminta dia dan saya kasih. Setelah itu, dia memberikan struk Electronic Data Capture (EDC), tapi transaksinya di Bank BCA. Saya bingung, biasanya struk dari Bank DKI, dan ini justru Bank BCA,” terangnya.

“Pria itu memberikan uang tunai Rp 300.000 ke saya. Saya pun lihat struknya, di situ tertulis Rp 330.000. Saya tanya, uang yang Rp 30.000 itu untuk apa? Dia bilang itu uang jasa. Ya sudah, saya pakai Rp 300.000 itu untuk kebutuhan sekolah anak saya. Setelah pengambilan uang tunai itu, saldo KJP anak saya Rp 70.000,” paparnya.

Perempuan yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Masyarakat Peduli Anti-Narkoba Jakarta Utara (Gemapana) itu sebagai sekretaris, langsung menyambangi Ahok di Gedung DPRD DKI saat mengikuti rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPRD, Kamis lalu.

Tujuannya, ia ingin mengadukan sulitnya mencairkan dana KJP sekaligus pencairan dana KJP dengan menggunakan bank lain.

“Karena saya takut salah dalam penggunaan KJP, makanya saya ingin menemui Pak Ahok untuk menanyakan hal itu. Eh malah dia ngatain saya. Pejabat apa seperti itu,” ujarnya.

Secara terpisah, Alexandra selaku Ketua Posko Advokasi Pendidikan dan Kesatuan Mahasiswa Angkatan Muda Partai Golkar Jakarta Utara, menuturkan, sejak caci maki Ahok terhadap Yusri, perempuan ini langsung menyambangi dan melaporkan kejadian itu ke DPD Partai Golkar Jakarta Utara.

“Kami akan mengadukan Ahok ke Polda Metro Jaya. Tuntutannya agar Ahok meminta maaf secara langsung dan bersifat terbuka ke Bu Yusri serta tuntutan ganti rugi Rp 100 miliar,” jelas Alexandra.

Gugatan sebesar Rp100 miliar itu, katanya, kata-kata yang dilontarkan Ahok tersebut telah menyakiti perasaan kliennya.

“Kalau begitu caranya, itu akan berdampak psikologis pada sang anak. Tuduhannya pencemaran nama baik. Karena di tetangga-tetangga sudah dikatain maling. Anaknya juga sudah enggak mau sekolah karena malu ibunya dikatain maling,” jelasnya

4. Ahok kembali geger setelah perkataannya di kepulauan seribu

Ahok kembali melontarkan pernyataan yang melecehkan Al Qur’an. Ahok menyebut surat Al Maidah ayat 51 dipakai membohongi warga untuk tidak memilihnya dengan ancaman neraka.

“Kalau bapak ibu ga bisa pilih saya, ya kan, dibohongin pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya, jadi kalo bapak ibu merasa, ga milih nih karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya gapapa” kata Ahok sewaktu berkunjung di Kepulauan Seribu dan diunggah ke Youtube pada Senin (26/9/2016) lalu.

Pernyataan Ahok ini langsung menuai kecaman keras dari umat Islam. Sebab Ahok dinilai telah melecehkan Al Quran dan memusuhi umat Islam.

Tokoh anti PKI Alfian Tanjung melalui akun Facebook pribadinya mengungkapkan bahwa pernyataan Ahok tersebut semakin jelas memperlihatkan bahwa Ahok memusuhi Islam.

http://x.rafomedia.com/tt?size=468*60&s=334d77768616e430052b8d19fd8813603b0ec539a4&po=1.55&nt=961&nl=320&wh=658&ww=1366&fp=0&idx=0,1&ref1=brow_gr&guid=ST320LT020-9YG142_W04914C2XXXXW04914C2&ri=hWiKkWb3W23FyjGZkXtlhWiGXKJd

“Sudah semakin Jelas, Basuki Podomoro ini memang musuh Islam,” tulis Alfian Tanjung, Rabu (5/10/2016), seperti dikutip Islamedia.

Tak terhitung jumlah netizen yang mengecam dan memprotes pernyataan Ahok tersebut. Ada pula yang menilai Ahok panik.

5. Ahok kembali menuduh ulama pembohong dalam persidangannya di Kementan

Humphrey: Apakah saudara pada saat itu memberikan statement mendukung paslon (pasangan calon) nomor satu? Karena paslon satu adalah yang terbaik dan sesuai yang dikehendak dari NU (Nahdlatul Ulama)?

Ma’ruf: NU sebagai lembaga tidak mungkin mendukung salah satu pasangan calon, tetapi warga NU akan memilih calon yang paling banyak samanya dengan NU, ucapan itu sebagai untuk menggembirakan tamu bukan dukungan.

Humphrey: Apakah ucapan yang sama diberikan kepada paslon nomor dua?
Ma’ruf: Tidak, karena setelah kejadian itu saya tidak mau bertemu dengan paslon manapun karena takut akan dikait-kaitkan.

Humphrey: Bagaimana dengan Paslon nomor tiga?

Ma’ruf: Sama sekali tidak.

Humphrey: Jadi hanya bertemu paslon nomor satu?

Ma’ruf: Tidak, itu pun sebelum kejadian.

Humphrey: Anda yakin sebelum kejadian tanggal 27 (September–ketika Ahok berpidato di Pulau Pramuka), ayo maju ke depan saya buktikan.
(Percakapan setelah mereka kembali ke kursi masing-masing)

Ma’ruf: Untuk itu saya lupa, berarti sebelum keluarnya keputusan Sikap dan Pandangan Agama MUI, jadi supaya pak hakim tahu yang ketemu itu ini saya itu di lantai empat dan diminta untuk ketemu, iya tanggal 7.
Humphrey: Jadi setelah itu tidak ada paslon lain yang menemui?

Ma’ruf: Tidak ada.

Humphrey: Saya ingin mundur ke belakang, pada tahun 2012 saudara juga menjadi koordinator MUI, betul ya?

Ma’ruf: Koordinator harian.
Humphrey: Pada saat itu anda membuat statement politik mendukung pasangan calon Fauzi (Fauzi Bowo) dan Nachrowi (Nachrowi Ramli) yang menghadapi saat itu paslon pak Jokowi (Joko Widodo) dan pak Basuki (Ahok) itu ada di pemberitaan kami hanya konfirmasi saja benar ada statement politik?

Ma’ruf: Saya lupa.

Humphrey: Lupa ya? Saya ingatkan kembali, pak Fauzi Bowo adalah pasangan calon dari partai Demokrat yang pembinanya adalah pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), lupa juga?

Ma’ruf: Kalau itu saya tau.

Humphrey: Tapi dalam statement itu mengatasnamakan bapak sebagai ketua koordinator harian MUI.

Ma’ruf: saya tidak ingat itu.

Humphrey: Saya ingin menanyakan kembali bapak menerima pasangan calon nomor urut satu di kantor PBNU, betul?

Ma’ruf: Saya berada di lantai empat.

Humphrey: Iya berada di lantai empat, saya ingin menanya apakah ada pada hari Kamis sehari sebelum anda bertemu paslon AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) dan Sylvi (Sylviana Murni), anda menerima telpon dari pak SBY pukul 10.16 (WIB) yang menyatakan adalah untuk mengatur agar pak Agus dan Sylvi diterima di kantor PBNU dan kedua untuk segera mengeluarkan fatwa terkait kasus penistaan agama yang dilakukan oleh pak BTP (Ahok), ada atau tidak?

Ma’ruf: Tidak.

Humphrey: Sekali lagi ada atau tidak?

Ma’ruf: Tidak.

Humphrey: Hakim, sudah ditanyakan berulang kali jawabannya sama, untuk itu kami akan berikan bukti.
(Hening)

Humphrey: Ya majelis hakim, andai kata kami telah memberikan buktinya dan ternyata keterangan tidak sama, kami mau menyatakan bahwa saksi ini memberikan keterangan palsu dan ingin diproses sebagaimana mestinya.

Iklan