‘Allamah Fadilatusy Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani dan Karya-karyanya : Bukan Sekadar Pengumpul Sanad

www.majalah-alkisah.com Syaikh Yasin Al-Fadani memang menyandang gelar “Musnid ad-Dunya”, namun jangan disalahartikan bahwa ia sekadar orang yang menjaga sekumpulan riwayat dan nama-nama tokoh periwayatan dalam tradisi lisan dan literal bagi sekian hadits yang sampai jalurnya kepada Rasulullah SAW. Gelar tersebut tak didapat Syaikh Yasin Al-Fadani hanya karena banyaknya guru, yang mencapai lebih dari 700 orang guru, tapi juga karena intensitas yang sangat tinggi dalam bidang yang ia geluti.

Mengeksplorasi karya-karya Syaikh Yasin Al-Fadani bukanlah perihal gampang. Selain faktor minimnya karya-karya sang maestro sa­nad ini yang ditemukan dalam bentuk utuh, tampaknya dari sekian karyanya yang telah tercetak pun belum banyak yang beredar luas di tengah-tengah ma­syarakat pecinta turats (khazanah klasik) Islam. Padahal Syaikh Yasin adalah se­orang alim besar kaliber dunia abad ke-14 H/20 M, yang memiliki sumbangsih me­limpah bagi keilmuan Islam, khusus­nya dalam upaya pelestarian tradisi sa­nad ilmu. Ia menjadi muara sanad berba­gai fan ilmu-ilmu keislaman yang tiada taranya serta penyambung ilmu masa lalu dan pada masanya bagi para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu) era belakangan ini.

Ketenaran dan karyanya yang ber­lim­pah membuat ‘Allamah Sayyid Saggaf bin Muhammad As-Seggaf, seorang tokoh ulama Hadhramaut, memuji Al-Fadani dengan sebutan Suyuthiyyu za­manih (Imam Suyuthi pada masanya). Pujian atas karya-karyanya juga berdatangan dari ‘Allamah Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Makkah, Syaikh Mah­mud Said Mamduh Al-Mishri, Al-Faqih Ha­bib Ali bin Syaikh Bilfaqih Seiwun Hadhramaut, dan banyak ulama pada masanya.

Pensyarah Andal

Syaikh Yasin Al-Fadani memang me­nyandang gelar “Musnid ad-Dunya”, namun jangan disalahartikan bahwa ia sekadar orang yang menjaga sekumpul­an riwayat dan nama-nama tokoh peri­wayatan dalam tradisi lisan dan literal bagi sekian hadits yang sampai jalurnya kepada Rasulullah SAW. Gelar tersebut tak didapat Syaikh Yasin Al-Fadani hanya karena banyaknya guru, yang mencapai lebih dari 700 orang guru, tapi juga karena intensitas yang sangat tinggi dalam bidang yang ia geluti. Menengok syarahnya atas kitab Sunan Abi Dawud yang memuat ahadits al-ahkam (hadits-hadits hukum) sebanyak 20 jilid, Ad-Durr al-Mandhud fi Syarh Sunan Abi Dawud, tentunya itu menjadi petunjuk tentang ke­pakarannya yang lain sebagai se­orang muhaddits, mujtahid, faqih, dan ushuli. Dan yang pasti, ia seorang penu­lis syarah yang andal.

Memang Imam Ar-Rafi’i berpendapat bahwa seorang ulama bisa dikategori­kan mujtahid cukup dengan mendalami Sunan Abi Dawud, meski pendapat ini di­bantah An-Nawawi, dengan dalih ha­dits-hadits ahkam (hukum) tak hanya ada di Sunan Abi Dawud. Namun khilaf ke­dua tokoh ini bukan poinnya, me­lainkan menunjukkan bahwa Sunan Abi Dawud memiliki kedudukan cukup tinggi dalam bidang hadits al-ahkam. Artinya, jika bukan seorang faqih, Al-Fadani tak mungkin mampu mensyarahnya. Sayangnya Syarh Sunan Abu Dawud, yang masih dalam bentuk manuskrip, tak kun­jung hadir di toko-toko buku, disebabkan beberapa jilid karya yang tersusun raib saat pindah rumah.

Merujuk pada kesaksian Syaikh Mah­mud Said Mamduh, salah seorang muridnya, Al-Fadani kerap kali mene­rima permintaan fatwa. Itu artinya, tokoh ini tak hanya pakar dalam isnad, tapi juga ilmu syari’at lainnya.

Masih menurut Syaikh Mamduh, Al-Fadani juga sosok ulama yang sangat tawadhu’ dan mendahulukan akhlaq atas ilmu. Karyanya mengenai ushul fiqh, Syarh al-Luma’, sebanyak dua jilid yang tebal, sengaja tak dicetaknya, lantaran salah seorang gurunya, Syaikh Yahya Aman, sudah terlebih dahulu me­ngirim naskah dengan tema yang sama ke percetakan. Syaikh Yasin berkaca pada peristiwa sebelumnya, saat men­cetak Hasyiyah at-Taysir karyanya, yang ternyata membuat karya serupa milik Syaikh Yahya Aman kurang dikenal. Dan ia mengutamakan gurunya lebih dulu ketimbang dirinya.

Karya-karya non-Sanad

Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan dan menghu­bung­kan, sesuatu yang terkait dan ber­tumpu kepada sesuatu yang lain. Dalam kacamata tasawuf, sanad keilmuan, amal­an dzikir, maupun tabiat ketarekat­an adalah bersambungnya ikatan bathin kepada guru-guru dan mursyid.

Jadi dalam sanad terkandung aspek muwashalah (hubungan dan keter­sam­bungan) satu pihak dengan pihak yang lain, akibat adanya at-tahammul wa al-ada‘ (mengambil dan memberi).

Sistem sanad merupakan salah satu mekanisme pencarian ilmu dan pengeta­huan yang sempurna, karena setiap pengetahuan yang dipindahkan itu dapat dipertanggungjawabkan otentisitas dan keabsahannya melalui rantaian periwa­yatan setiap perawi. Ketelitian ini dapat di­lihat dari kaidah ulama hadits dengan hanya mengambil hadits dari perawi yang tsiqah (kuat). Begitu juga dengan kaidah disiplin ilmu qira’at.

Disiplin ilmu sanad dianggap sebagai suatu yang sangat penting dalam men­jamin keshahihan dan keaslian ilmu yang disampaikan sehingga dianggap seba­gai bagian masalah kepentingan agama. Dan inilah yang dilakoni oleh Syaikh Yasin Al-Fadani. Ia menggelutinya de­ngan penuh perhatian. Melakukan rihlah (perjalanan), meneliti, menguji (tahqiq dan takhrij), memeriksa para perawi, dan sebagainya, dilakukan demi mencapai aspek mu’tabar bagi suatu hadits. Inilah amal penelitian ilmu yang berlangsung sebagai tradisi dari masa salaf dan dilakoni Syaikh Yasin di masanya de­ngan tidak mudah.

Sebagai seorang ulama yang digelari Musnid Ad-Dunya, Syaikh Yasin memang patut berbangga dan bersyukur atas hasil goresannya yang begitu intensif dilakukannya pada bidang sanad.

Karya-karyanya di bidang ini di antara­nya Madmah al-Wujdan fi Asanid asy-Syaikh Umar Hamdan, Faydh ar-Rah­man fi Tarjamah wa Asanid asy-Syaikh Khalifah bin Hamd an-Nabhan, Al-Qawl al-Jamil bi Ijazah as-Sayyid Ibrahim Bin Aqil, Faydh al-Muhaimin fi Tarjamah wa Asanid as-Sayyid Muhsin, Al-Maslak al-Jaliyy fi Tarjamah wa Asanid asy-Syaikh Muhammad ‘Aliyy, Asanid Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki, Asma al-Ghayah fi Asanid asy-Syaikh Ibrahim al-Hazami fi al-Qira`ah, Al-Muqtathaf min Ithaf al-Akabir bi Marwiyyat ‘Abd al-Qadir ash-Shadiqi al-Makki,  Ikhtishar Riyadh Ahl al-Jannah min Atsar Ahl as-Sunnah li ‘Abd al-Baqi al-Ba’li al-Hanbali, Arba’un Haditsan min Arba’in Kitaban ‘an Arba’in Syaikhan, Al-Arba’un al-Buldaniyyah Arba’un Haditsan ‘an Arba’ina Syaikhan ‘an Arba’in Baladan, ‘Arbaun Haditsan Musalsal bi an-Nuhad ila al-Jalal as-Suyuthi, Al-Salasil al-Mukhtarah bi Ijazah al-Mu’arrikh as-Sayyid Muhammad bin Muhammad Ziyarah, Al-Faydh al-Rahmani bi Ijazati Samahah al-‘Allamah al-Kabir Muhammad Taqi al-‘Ustmani, Ta’liqat ‘ala Kifayah al-Mustafid li asy-Syaikh Mahfuzh at-Turmusi, Tahqiq al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyyat al-Syarqawi, Ithaf al-Ikhwan bi Ikhtishar Madmah al-Wujdan, Tanwir al-Bashirah bi Thuruq al-Isnad asy-Syahirah, Al-Irsyadat fi Asanid Kutub an-Nahwiyyah wa ash-Sharfiyyah, Al-‘Ujalah fi al-Ahadits al-Musalsalah, Asanid al-Kutub al-Haditsiy­yah as-Sab’ah, Al-‘Iqd al-Farid min Ja­wahir al-Asanid, Ithaf al-Bararah bi Ahadits al-Kutub al-Haditsiyyah al-‘Asyrah, Ithaf al-Mustafid bi Nur al-Asanid, Qurrah al-‘Ayn fi Asanid A’lam al-Haramayn, Ithaf uli al-Himam al-‘Aliyyah bi al-Kalam ‘ala al-Hadits al-Musalsal bi al-Awwaliyyah, Al-Waraqat fi Majmu’ah al-Musalsalat wa al-Awa’il wa Asanid al-‘Aliyyah, Ad-Durr al-Farid min Durar al-Asanid, Bughyah al-Murid min ‘Ulum al-Asanid, Fath ar-Rabb al-Majid fima li Asy-yakhiy min Fara’id al-Ijazah wa al-Asanid, Silsilah al-Wushlah Majmu’ah Mukhtarah min al-Ahadits al-Musalsalah, Nihayah al-Mathlab fi ‘Ulum al-Isnad wa al-Adab, Ad-Durr an-Nadhir wa ar-Rawdh an-Nazhir fi Majmu’ al-Ijazah bi Tsabat al-Amir, Al-‘Ujalah al-Makkiyyah wa an-Nafhah al-Makiyyah, Al-Waraqat ‘ala al-Jawahir ats-Tsamin fi al-Arba’in Haditsan min Ahadits Sayyid al-Mursalin.

Karya-karya di bidang sanad ini se­pertinya telah bersenyawa dalam sosok Fadhilatusy Syaikh Yasin Al-Fadani. Dan hal inilah yang menjadi apresiasi para ulama di masanya untuk menahbis­kan­nya sebagai sang empu di bidang sanad.

Sebagaimana dimaklumi, senarai karyanya yang lain, di luar bidang sanad, dapat disebutkan di antaranya Al-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram, Janiyy ats-Tsamar syarh Manzhumah Manazil al-Qamar, Jam’u al-Jawami’, Bulghah al-Musytaq fi ‘Ilm al-Isytiqaq, Idha-ah an-Nur al-Lami‘ Syarh al-Kawkab as-Sathi‘, Hasyiyah ‘ala al-Asybah wa an-Nazhair, Bughyah al-Musytaq Syarh al-Luma‘ Abi Ishaq, Tatmim ad-Dukhul Ta’liqat ‘ala Madkhal al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul, Ad-Durr an-Nadhid Hasyiyah ‘ala Kitab at-Tamhid lil-Asnawi, Nayl al-Ma’mul Hasyiyah ‘ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul, Ad-Durr al-Mandhud fi Syarh Sunan Abi Dawud, Fath Manhal al-Ifadah, Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyi­yah ‘ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Mukh­tashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rub’i al-Mujib, Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Wasilah fi al- Falak, Tastnif as-Sam’i Mukh­tashar fi ‘Ilm al-Wadh’i, Husn ash-Shiyaghah Syarh Kitab Durus al-Bala­ghah, Risalah fi al-Mantiq, Ithaf al-Khallan Tawdhih Tuhfah al-Ikhwan fi ‘Ilm al-Bayan, dan Ar-Risalah al-Bayaniyyah ‘ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab.

Karya ini menunjukkan nilai plus yang terkandung pada sosok Syaikh Yasin, sebagai seorang ulama yang komplet. Kitab karyanya yang berjudul al-Fawaid al-Janiyyah hasyiyah Al-Ma­wahib As-Saniyyah syarah Al-Fara’idh Al-Bahiyah Nazhm Qawa’id al-Fiqhiyyah fi al-Asybah wa an-Nazha-ir ‘ala al-Madz­hab asy-Syafi’iyyah merupakan kitab hasyiyah (kitab yang berisi penje­lasan atau komentar terhadap kitab sya­rah) mengenai qawa`id fiqh (kaidah-kaidah fiqih) yang berjudul Al-Asybah wa An-Nazha-ir ‘ala al-Madzhab asy-Syafi’iyyah, karya Imam As-Suyuthi. Ki­tab tersebut hingga kini menjadi materi sila­bus mata kuliah Ushul Fiqh di Fakul­tas Syari’ah Al-Azhar Kairo, karena di­susun secara sistematis, sarat dengan penjelasan kaidah-kaidah fiqih, dan mu­dah dipahami.

Mengenai kitab ini, Syaikh Zakaria Abdullah Bila berkata, “Waktu mengajar Qawa’idul Fiqh di Madrasah Shaulatiy­yah Makkah, saya sering kali mendapat kesulitan yang memaksa saya membo­lak-balik kitab-kitab yang besar untuk me­mecahkan kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’id al-Janiy­yah, karya Syaikh Yasin, menjadi mu­dahlah semua itu, dan ringanlah beban da­lam mengajar.”

Sayangnya, sebagaimana dikatakan di muka, karya-karya Syaikh Yasin belum dikenal sepenuhnya, terutama di bumi persada Nusantara ini. Alangkah indahnya jika karya-karyanya yang ber­jumlah ratusan itu benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat Islam yang mencintai ilmu-ilmu tradisi salaf, meme­nuhi rak-rak pustaka, dan menambah khazanah karya ulama asal negeri yang bermarwah ini. Semoga.

AB

http://m.majalah-alkisah.com/%E2%80%98allamah-fadilatusy-syaikh-muhammad-yasin-al-fadani-dan-karya-karyanya-bukan-sekadar-pengumpul-sanad

Diposkan 30th September 2014 oleh Umar Al-Fadani

Iklan