Presiden BEM URINDO
oleh: Anaz Jabo
Rabu kemarin (12/05/10) kita kembali dikejutkan dengan aksi penyergapan teroris di Indonesia, menurut keterangan di media massa polisi menangkap enam orang dalam penggerebelan di Cililitan, Jakarta Timur dan Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Rabu 12 Mei 2010.

Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Edward Aritonang membenarkan dengan tertangkapnya enam orang hari ini, dalam dua minggu ini sudah ada 22 terduga dan tersangka teroris yang dibekuk.

“Rinciannya, 12 di Pejaten (6/5), di Tangerang dua orang, di jakarta tadi malam dua orang, enam orang di Cawang dan Cikampek,” kata Edward Aritonang di Markas Besar Kepolisian. Dari enam orang terduga teroris yang dibekuk hari ini, lima diantaranya tewas. Jasad tersangka teroris itu baru dua orang yang bisa dikenali. Yakni, Maulana dan Saptono. Tiga jasad lainnya masih dalam proses identifikasi.

Salah satu yang tewas adalah Saptono. Dia merupakan adik dari Encang Kurniawan alias Yusuf alias Jaja, guru agama terpidana mati Imam Samudera yang dieksekusi tahun lalu. ”Saptono adalah adiknya Jaja,” kata Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu 12 Mei 2010.

Ada yang menarik dari rentetan kasus teroris ini bila kita perhatikan dengan seksama, terutama pada proses dan waktu penangkapannya. Seolah seperti sebuah pesanan, isu penangkapan teroris bisa diangkat kapan saja dan dimana saja sesuai kebutuhan si bos besar. Terkadang isue teroris datang dengan cepat menyapu bersih semua isue – isue politik yang sedang hangat. Tak pelak semua perhatian dan pembicaraan akhirnya tertuju pada berita tentang teroris. :thumbup: :tabrakan:

Fenomena tersebut tentu sangat menyedihkan apabila sesuai dengan analisa kita, mungkinkah para elit sampai berbuat seperti itu ? Itu mungkin pertanyaan yang timbul dari setiap benak kita, karena sungguh sangat beradabnya orang yang telah mempermainkan nyawa manusia hanya dengan tujuan untuk memuaskan keinginan sang penguasa.

Memang begitulah kehidupan di negeri anatah berantah ini….

Salam,

Anaz Djabo

Iklan