Dalam penelitian yang dilakukan ICW terhadap proyek yang dibiayai Bank Dunia di Sulewesi Tengah dan NTB (1996-2003), terungkap bahwa utang yang diberikan Bank Dunia justru menambah kemiskinan masyarakat di daerah setempat. Menurut ICW, hal ini terjadi karena pinjaman yang diberikan Bank Dunia tidak berdasarkan kebutuhan masyarakat tetapi berdasarkan keinginan Bank Dunia (Kompas Cyber Media: 2/5/2002). Sritua Arief mengatakan bahwa para kreditur seperti Bank Dunia-lah yang menetapkan berapa jumlah pinjaman dan digunakan untuk membiayai proyek apa, bukannya pemerintah atas permintaan masyarakat sehingga Bapenas hanyalah sebagai lembaga pemberi stempel dan menerima apa adanya dari Bank Dunia.
International Monetary Fund (IMF) menyatakan pihaknya telah menyetujui menyuntikkan dana kepada negara-negara anggotanya sebesar US$250 miliar atau Rp 2500 triliun (kurs Rp 10.000 per dolar AS). Berdasarkan siaran pers IMF No. 09/283, keputusan itu merupakan kelanjutan rapat Dewan Gubernur IMF (7/8).
Dana tersebut berupa Special Drawing Rights (SDR) yang akan menjadi cadangan devisa negara-negara anggota IMF untuk menjaga likuiditasnya pada saat krisis ekonomi global ini. Rencana itu telah dilaksanakan secara efektif pada 28 Agustus i.  Jumlah SDR sebesar US$ 250 miliar itu jauh lebih besar dari alokasi umum SDR dalam enam dekade berdirinya IMF.
Seluruh anggota IMF yang berjumlah 186 negara akan mendapat utang atau lebih lazim disebut suntikan dana atau tambahan cadangan devisa, berdasarkan proporsi kuota mereka di IMF. Sekitar US$ 100 miliar akan disalurkan ke negara-negara berkembang. Menurut informasi yang berkembang, Indonesia mendapat jatah SDR 1,54 miliar,setara denganUS$2,4miliar atau Rp 24 triliun.
SDR adalah alat pembayaran internasional ciptaan IMF, yang dapat diterima di setiap bank sentral, terutama dalam bentuk emas, mata uang tertentu seperti dolar.
Peningkatan alokasi umum SDR adalah bagian dari rencana 1,1 triliun dolar AS yang disepakati pada pertemuan puncak kelompok 20 (G-20) di London, Inggris, pada awal April untuk mengatasi krisis keuangan dan ekonomi global. Sudah jelas bahwa IMF hanya mencari profit yang sebesar-besarnya bagi Negara-negara pendonor tidak ada sedikitpun keinginan untuk membantu.Menurut Kunibert Raffer (1999), Bank Dunia mengandalkan kedudukannya sebagai kreditur mendapatkan keuntungan dari berbagai kerugian yang menimpa negara akibat jebakan utang (debt trap). Banyak proyek yang dibiayai Bank Dunia di berbagai negara berkembang berdampak buruk terhadap masyarakat sekitar dan lingkungan. Masyarakat dipaksa untuk meninggalkan tanah dan rumah mereka (digusur) dengan ganti rugi yang tidak memadai bahkan tidak diberikan ganti rugi sama sekali. Dan pertanyaannya adalah apakah pemimpin bangsa ini tidak malu menjadi bangsa pengemis?

Iklan